Quss bin Sa'idah, dan Orasi Terkenalnya di Pasar Ukaz

Sahabat Kamus Mufradat yang semoga selalu dalam lindungan Allah -ta’ala-. Pada saat menulis contoh pidato bahasa Arab tentang ilmu, saya sempat menyinggung pembahasan tentang sastra Arab yang diantaranya adalah khutbah atau orasi.

Salah satu orator dari bangsa Arab yang dikenal adalah Quss bin Saidah Al-Iyadi. Pada tulisan tersebut saya sempat mengisyaratkan akan menulis orasinya pada postingan tersendiri. Dan yang ada di hadapan pembaca sekarang adalah janji tersebut.
orasi qus bin saidah dan artinya
Sebelumnya perlu disinggung sedikit biografi singkat khatiib (orator) yang pertama kali mempelopori pengucapan ‘Amma ba’du’ setelah membaca mukadimah (pembukaan) dalah khutbah.

Nama lengkap beliau adalah Quss bin Saidah bin Hudzafah bin Zufar bin Iyad. Namun ada pendapat lain yang menyebutkan lebih panjang, yaitu Quss bin Saidah bin Amru bin Adi bin Malik bin Iid’aan bin An-Namir bin Wailah bin Ath-Thamtsan bin Udz Manat bin Yaqdum bin Afsha bin Da’ma bin Iyad. (Wikipedia)

Diriwatkan bahwa beliau merupakan salah satu dari sekian orang-orang jahiliyah yang masih berpegang teguh dengan ajaran Nabi Ibrahim -‘alaihissalam-. Beliau wafat tidak lama sebelum diutusnya Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

Tidak hanya mempelopori pengucapan ‘Amma ba’du’ saja, tercatat ada beberapa hal yang beliau adalah orang pertama yang melakukan atau mengatakannya, di antaranya adalah:

>> Berkhutbah sambil memegang tongkat.
>> Mengatakan ( مِنْ فُلَانٍ إِلَى فُلَانٍ ) “dari fulan untuk fulan”.
>> Mengatakan ( البَيِّنَةُ عَلَى الـمُدَّعِي ، وَاليَمِيْنُ عَلَى مَنْ أَنْكَرَ ) yang artinya “Yang mengaku harus menunjukkan bukti, dan yang menyangkal harus bersumpah”.

Sahabat Kamus Mufradat yang budiman. Langsung saja, berikut ini salinan pidato Quss bin Saidah yang terkenal. Disampaikan di hadapan banyak orang yang berkumpul di Pasar Ukaz.

Ia mengajak manusia untuk merenungi tanda-tanda kekuasaan Allah di muka bumi, dan meninggalkan sesembahan-sesembahan selain-Nya, dan kembali kepada ajaran luhur dan murni dari nenek moyang mereka, Nabi Ibrahim -‘alaihissalam-. Selamat membaca dan belajar.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ ! اِسْـمَعُوا وَعُوا ، وَإِذَا وَعيتُمْ فَانْتَفِعُوا
Wahai manusia! Dengarkan dan fahamilah, jika kalian faham, maka ambillah manfaatya.


إِنَّهُ مَنْ عَاشَ مَاتَ ، وَمَنْ مَاتَ فَاتَ ، وَكُلُّ مَا هُوَ آتٍ آتٍ ؛ مَطَرٌ وَنَبَاتٌ ، وَأَرْزَاقٌ وَأَقْوَاتٌ ، وَآبَاءٌ وَأُمَّهَاتٌ ، وَأَحْيَاءٌ وِأَمْوَاتٌ ، جَمْعٌ وَشَتَاتٌ ، وَآيَاتٌ بَعْدَ آيَاتٍ
Sungguh siapa yang hidup pasti mati, siapa yang mati pasti sirna, dan semua yang datang pasti datang; hujan dan tanaman, rezeki dan makanan, ayah dan ibu, orang hidup dan orang mati, persatuan dan perpecahan, dan tanda demi tanda.


إِنَّ فِي السَّمَاءِ لَـخَبَرًا ، وِإِنَّ فِي الأَرْضِ لَعِبَرًا ، لَيْلٌ دَاجٌ ، وَسَـمَاءٌ ذَاتُ أَبْرَاجٍ ، وَأَرْضٌ ذَاتُ فِجَاجٍ ، وِبِـحَارٌ ذَاتُ أَمْوَاجٍ
Sesungguhnya di langit ada pelajaran, dan sesungguhnya di bumi ada nasihat, malam yang kelam, langit bergugusan bintang, bumi nan luas, dan lautan bergelombang.


مَالِي أَرَى النَّاسَ يَذْهَبُوْنَ وَلَا يَرْجِعُوْنَ ؟ أَرَضُوا بِالـمُقَامِ فَأَقَامُوا ، أَمْ تُرِكُوا هُنَاكَ فَنَامُوا ؟
Ada apa dengan diriku melihat manusia pergi dan tidak kembali? Apakah mereka suka tinggal lalu menetap? Atau mereka ditinggal di sana lalu tidur?


أَقْسَمَ قُسٌّ قَسَمًا حَقًّا لَا خَائِنًا فِيْهِ وَلَا آثِـمًا ، إِنَّ للهِ دِيْنًا هُوَ أَحَبُّ إِلَيْهِ مِنْ دِيْنِكُمُ الَّذِي أَنْتُمْ عَلَيْهِ وَنَبِيًّا قَدْ حَانَ حِيْنُهُ وَأَظَلَّكُمْ أَوَانُهُ وَأَدْرَكَكُمْ إِبَّانُهُ
Quss bersumpah dengan sumpah yang benar, tiada berkhianat atau berdosa, sesunggunya Allah memiliki agama yang lebih Dia cintai dari agama yang sekarang kalian anut, dan Dia (memiliki) seorang nabi yang telah tiba dan dekat masa kedatangannya.


فَطُوْبَى لِمَنْ أَدْرَكُهُ فَآمَنَ بِهِ وَهَدَاهُ ! وَوَيْلٌ لِمَنْ خَالَفَهُ وَعَصَاهُ
Sungguh beruntung siapa yang mendapatinya, lalu beriman dan diberi pentunjuk! Dan kecelekaan bagi siapa yang menyelisihi dan menentangnya.


ثُـمَّ قَالَ : تَبًّا لِأَرْبَابِ الغَفْلَةِ ، وَالأُمَمِ الـخَالِيَةِ ، وَالقُرُوْنِ الـمَاضِيَةِ
Kemudian ia berkata:
Celakalah orang-orang yang lalai, umat-umat yang telah berlalu, dan generasi-generasi pendahulu.


يَا مَعْشَرَ إِيَادٍ ! أَيْنَ الآبَاءُ وَالأَجْدَادُ ، وَأَيْنَ الـمَرِيْضُ وَالعُوَّادُ ، وَأَيْنَ الفَرَاعِنَةُ الشِّدَادُ ، أَيْنَ مَنْ بَنَى وَشَيَّدَ ، وَزَخْرَفَ وَنَـجَّدَ ؟
Wahai kaumku (keturunan) Iyad ! Dimanakah ayah dan nenek moyang (kalian) ? Dimanakah orang-orang sakit dan penjenguknya? Dimanakah Fir’aun-Fir’aun yang adikuasa? Dimanakah orang-orang yang telah membangun dan meninggikan, mendekorasi dan menghiasi (bangunannya)?


أَيْنَ الـمَالُ وَالوَلَدُ ، أَيْنَ مَنْ بَغَى وَطَغَى ، وَجَـمَعَ فَأَوْعَى وَقَالَ أَنَا رَبُّكُمُ الأَعْلَى ؟
Dimanakah harta dan anak keturunan? Dimanakah orang-orang yang jahat dan semena-mena, yang mengumpulkan (harta benda) dan menyimpannya, lalu mengatakan, “Akulah Tuhan kalian yang maha tinggi”?


 أَلَـمْ يَكُوْنُوا أَكْثَرَ مِنْكُمْ أَمْوَالًا ، وَأَطْوَلَ مِنْكُمْ آجَالًا ؟
Bukankah mereka lebih harta bendanya daripada kalian, dan lebih panjang usianya?


طَحَنَهُمُ الثَّرَى بِكَلْكَلِهِ ، وَمَزَّقَهُمْ بِطُوْلِهِ ، فَتِلْكَ عِظَامُهُمْ بَالِيَةٌ ، وَبُيُوْتُـهُمْ خَاوِيَةٌ ، عَمَرَتْـهَا الذِّئَابُ العَاوِيَةُ
Bumi telah menggerus dan menghancurkan mereka, (lihatlah) tulang belulang mereka telah hancur, rumah-rumah mereka telah roboh, dan dihuni oleh serigala-serigala yang mengaum.


كَلَّا ، بَلْ هُوَ اللهُ الوَاحِدُ ، لَيْسَ بِوَالِدٍ وَلَا مَوْلُوْدٍ
Sama sekali tidak! Bahkan sebenarnya Dia adalah Allah Yang Maha Esa, tidak beranak dan tidak diperanakkan.


ثُـمَّ أَنْشَأَ يَقُوْلُ :
Kemudian ia mengatakan:


فِي الذَّاهِبِيْنَ الأَوَّلِيْنَ --- مِنَ القُرُوْنِ لَنَا بَصَائِرْ
Pada orang-orang terdahulu yang telah mati ... dari generasi sebelumnya ada pelajaran untuk kita.


لَـمَّا رَأَيْتُ مَوَارِدًا --- لِلْمَوْتِ لَيْسَ لَـهَا مَصَادِرْ
Ketika aku melihat jalan-jalan ... menuju kematian yang tidak jalan kembalinya.


وَرَأَيْتُ قَوْمِي نَـحْوَهَا --- يَـمْضِي الأَصِاغِرُ وَالأَكَابِرْ
Aku melihat kaumku, besar maupun kecil, semua menuju kesana.


لَا يَرْجِعُ الـمَاضِي إِلَــــــــــيَّ --- وَلَا مِنَ البَاقِيْنَ غَابِرْ
Tidak akan kembali hari yang telah berlalu kepadaku ... Dan ditengah mereka yang masih hidup tidak ada keabadian.


أَيْقَنْتُ أَنِّي لَا مَحَالَةَ --- حَيْثُ صَارَ القُوْمُ صَائِرْ
Aku yakin bahwa aku pasti... menuju tempat yang telah dituju semua orang.
Demikian pidato bahasa Arab milik Quss bin Saidah dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Semoga sajian di atas bisa diambil faedah dan manfaatnya, serta menjadikan Anda lebih cinta kepada bahasa Arab.

Kurang lebihnya mohon maaf, terima kasih atas kunjunganya, wa jazaakumullahu khairan.

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Quss bin Sa'idah, dan Orasi Terkenalnya di Pasar Ukaz"

Post a Comment

Banyak komentar yang muncul dengan akun "Unknown" dikarenakan setingan akun Google Anda diprivasi. Hal ini memberikan dampak buruk kepada blog Kamus Mufradat. Oleh karena itu admin tidak bisa memberikan approve untuk komentar semacam itu.

Dan admin menyarankan Anda untuk membuka setingan akun Google Anda terlebih dahulu, atau memberikan tanggapan dan komentar menggunakan pilihan kedua jika Anda mempunyai halaman blog atau website, atau yang ketiga, yaitu menggunakan "Anonymous".

Syukran atas perhatian antum semua.